Home » » CERMIN KEHIDUPAN

CERMIN KEHIDUPAN

Setiap manusia itu di takdirkan berbeda_beda dalam menjalani kehidupan di dunia ini, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang bahagia dan ada yang sedih dan ini merupakan salah satu bukti adanya ketetapan Allah SWT, dari ketetapan tersebut maka sesuai dengan rukun iman yang ke enam dan harus kita yakini, karena Ini berdasarkan firman Allah s.w.t:


قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا


Maksudnya: “ia menjawab: “Demikianlah keadaannya tak usahlah dihairaukan; Tuhanmu berfirman: hal itu mudah bagiKu; dan Kami hendak menjadikan pemberian anak itu sebagai satu tanda (yang membuktikan kekuasaan Kami) untuk umat manusia dan sebagai satu rahmat dari Kami; dan hal itu adalah satu perkara yang telah ditetapkan berlakunya.” [Maryam: 21].

Allah s.w.t menyatakan pelaksanaan terhadap sesuatu ketentuan

yang telah ditetapkan semenjak azali sebagai Qada’ dalam ayat ini dan sekaligus menolak bidaah Muktazilah Modern (Hizb-ut-Tahrir) yang mengatakan Qada’ tidak warid dalam naqal.

Qada’ dan Qadar merupakan rukun Iman keenam sebagaiman sabda Nabi s.a.w apabila ditanya Jibril a.s berkenaan Iman:


أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

Maksudnya: “Hendaklah kamu percaya kepada Allah, MalaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, Hari Akhirat, dan beriman pula dengan Qadar (ketentuan) baik dan buruk”. [al-Bukhari, Muslim].

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa kita sebagai kholifah di dunia ini harus beriman kepada rukun iman yang ke enam ini, karena Allah SWT telah membuktikan kekuasaan-Nya sebagai salah satu Rahmat atas apa apa yang telah di tetapkan-Nya.

Sebagai mu’min yang beriman kita di ajarkan agar selalu tahan banting dalam segala cobaan, walau badai musibah yang selalu hadir, silih berganti dalam kehidupan kita. Karena ini sesuai apa yang di sabdakan Rosulullah SAW :

Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Orang mu'min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu'min yang lemah. Namun keduanya itu pun sama memperolehi kebaikan.

Berlumbalah untuk memperolehi apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena oleh sesuatu mushibah, maka janganlah engkau berkata: "Andaikata saya mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu." Tetapi berkatalah: "Ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki olehNya tentu Dia melaksanakannya," sebab sesungguhnya ucapan "andaikata" itu membuka pintu godaan syaitan." (Riwayat Muslim)

Memang untuk menjadi mu’min yang kuat tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan, kuat bukan berarti tahan pukul, tak terkalahkan, akan tetapi yang di maksud orang kuat menurut Rosulullah SAW adalah: “Orang yang kuat itu bukan orang yang (tak terkalahkan) saat berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah mereka yang dapat mengendalikan dirinya pada saat emosi. “(Riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

Kekuatan selalu kita ukur secara fisik. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bukan menolak ukuran yang bersifat fisik, tapi ada dimensi lain yang sering dilupakan sebagian manusia, yaitu dimensi “rasa”. Justru pada dimensi itulah terletak keberadaan manusia yang sebenarnya.

Orang yang kuat, menurut Rasulullah adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya saat hatinya bergejolak marah. Pada saat seperti itu, ia mampu menahannya dengan kesabarannya dan mengalahkannya dengan keteguhan hatinya. Ia tidak membiarkan jiwanya terlepas liar bersama dengan letupan bunga api kemarahannya, yang kemudian dengan seenaknya mengeluarkan caci maki, kata-kata murka, dan omongan kotor lainnya. Ia tetap dapat mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulutnya agar tetap normal, rasional, dan proporsional.

Marah adalah watak yang tersembunyi pada diri setiap manusia yang sewaktu-waktu dapat terpancing oleh allergen (pemicu alergi) yang selalu ada di sekitar kita. Orang yang sehat hatinya tidak mudah terpengaruh oleh pemicu tersebut, akan tetapi bagi orang yang sudah terjangkiti penyakit “asma”, pemicu di sekitarnya dapat mengubahnya menjadi sesak nafas, bahkan tersumbat saluran pernafasannya. Begitulah gambaran orang yang tidak dapat mengendalikan nafsu marahnya. Ia mudah tersulut, terprovokasi, dan terpancing oleh hal-hal yang semestinya tidak perlu sampai membangkitkan amarahnya.

Kita harus mempu memblokir semua jalan keinginan nafsu yang menghancurkan itu. Kita harus membentuk tentara yang kuat dan perkasa untuk mengendalikan nafsu yang menjatuhkan kehormatan diri dan kemanusiaan kita.

Betapa banyak orang yang jatuh kehormatannya hanya gara-gara tidak mampu menahan marahnya? Seorang akademisi tak lagi bicara ilmiah jika sedang marah. Seorang ustadz tak lagi berkata santun saat marah. Seorang ibu tak lagi berkata lembut kepada anaknya saat marah. Seorang ayah berkata dengan tindakan kasarnya saat marah. Seorang pejabat berkata dengan menggebrak mejanya saat marah. Seorang istri menangis histeris saat marah. Tidak ada yang rasional, tidak ada yang proporsional, dan tidak ada yang normal saat orang tak mampu menahan marahnya.

Apalagi jika kemarahan itu sudah bercampur-aduk dengan dendam, sakit hati, dan perasaan terhina. Kolaborasi penyakit hati ini bisa membuncah menjadi bola api besar yang membakar apa saja yang ada di depannya. Pada mulanya hanya kata-kata kotor, kasar, dan menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Tak puas dengan sekadar berkata-kata, ia lampiaskan kemarahannya dengan perbuatan dan tindakan. Tak cukup dengan mencaci dan menghina, tangannya kini mulai bergemeretak, lalu memukul, menendang, melempar, bahkan membunuh, na’udzubillah.

Tak salah jika Rasulullah mendefinisikan orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan marahnya. Menahan kemarahan itu membutuhkan kekuatan yang besar, lebih besar dari letupan kemarahannya. Untuk menahan nafsu marah, dibutuhkan tentara yang perkasa, lebih perkasa dari tentara yang terlatih dan terbiasa dengan membiarkan kemarahannya.

Referensi:

- Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi

- http://majalah.hidayatullah.com



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Akief Takaful

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© 2010-2012 AKIEF TAKAFUL
Desain by Akief Takaful | Powered by Blogger