Home » » SISTEMATIKA SUMBER HUKUM ISLAM

SISTEMATIKA SUMBER HUKUM ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hukum Islam mencerminkan seperangkat norma Ilahi yang mengatur tata hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kehidupan sosial hubungan manusia dengan benda dan alam lingkunganhidupnya.Norma Illahi yang mengatur tata hubungan tersebut adalah kaidah-kaidah dalam arti khusus atau kaidah ibadah murni, mengatur cara dan upacara hubungan langsung antara manusia dengan sesamanya dan makhluk lain di lingkungannya.
Ciri khas hukum Islam, yakni berwatak universal, berlaku abadi untuk umat Islam dimanapun mereka berada, tidak terbatas pada umat Islam dimanapun mereka berada, tidak terbatas pada umat Islam di suatu tempat atau negara pada suatu masa, menghormati martabat manusia sebagai kesatuan jiwa dan raga, rohani dan jasmani, serta memuliakan manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan, pelaksanaan dalam praktik digerakkan oleh iman dan akhlak umat Islam. Banyak teori tentang sumber hukum Islam, tetapi penulis akan menuliskan tentang sumber hukum Islam yang terdiri dari Al-Quran, Hadits, dan Ijtihad. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai sumber-sumber hokum Islam dan metode Istidlal dari empat mazhab.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja sumber hukum islam ?
2. Metode apa saja yang di pakai dalam berijtihad?
3. Bagaimana metode istidlal dari empat mazhab yang popular?

C. Tujuan
Tujuan dituliskannya makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kita akan sumber hukum Islam , metode-metode berijtihad dan metode Istidlal dari 4 mazhab.




BAB II
PEMBAHASAN

SISTEMATIKA SUMBER HUKUM ISLAM

Agama Islam memiliki pedoman yang sangat penting dalam menghadapi hidup. Setiap muslim diwajibkan agar berpedoman dengan sumber-sumber
tersebut. Sumber-sumber tersebut terdapat beberapa bagian. Sumber yang paling penting, sempurna, tidak diragukan, berlaku sepanjang zaman dan diwajibkan pula setiap muslim atas pemahamannya yaitu Al-Quran. Sumber lainnya cukup penting dalam pengaplikasian dari Al-Quran ke kehidupan sehari-hari yaitu Hadits dan ijtihad yang diambil berdasarkan kedua sumber tersebut.

A. Al-Qur’an al-karim

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan bahasa Arab dengan perantaraan malaikat Jibril, sebagai hujjah (argumentasi) bagi-Nya dalam mendakwahkan kerasulan-Nya dan sebagai pedoman hidup bagi manusia yang dapat dipergunakan untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta sebagai media untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Tuhan dengan membacanya. Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ini terwujud dalam bahasa arab dan secara autentik terhimpun dalam mushaf.1
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari atau banyak juga yang membulatkannya menjadi 23 tahun.2

Keistimewaan yang di miliki Al-Qur’an sebagai wahyu Allah ini ada banyak sekali, di antaranya yaitu:

a. Lafadh dan maknanya berasal dari Tuhan. Lafadh yang berbahasa Arab itu dimasukkan ke dalam dada Nabi Muhammad, kemudian beliau membaca dan terus menyampaikannya kepada umat. Sebagai bukti bahwa Al-Qur’an itu datang dari sisi Allah ialah ketidaksanggupan (kelemahan) orang-orang membuat tandingannya walaupun mereka sastrawan sekalipun.
b. Al-Qur’an sampai kepada kita secara mutawatir, yakni dengan cara penyampaian yang menimbulkan keyakinan tentang kebenarannya, karena disampaikan oleh sekian banyak orang yang mustahil mereka bersepakat bohong.
c. Tidak ada yang bisa memalsukan Al-Qur’an karena ia terjaga keasliannya.

Firman Allah dalam surat Al-Hijr ayat 9 yang artinya “sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an, dan sungguh Kami yang memeliharanya”. Hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an ada 3 yaitu hokum I’tiqadiyah, hukum akhlaq, hukum amaliah.

1. Hukum I’tiqadiyah yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan kewajiban para mukallaf untuk mempercayai Allah, malaikat-malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah dan hari pembalasan.
2. Hukum akhlaq yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan kewajiban orang mukallaf untuk menghiasi dirinya dengan sifat-sifat keutamaan dan menjauhkan dirinya dari sifat-sifat yang tercela.
3. Hukum amaliah yaitu yang bersangkutan dengan perkataan, perbuatanperbuatan, perjanjian-perjanjian, dan mu’amalah (kerja sama) sesama manusia.

Hukum amaliah sendiri terbagi menjadi dua, yaitu hukum ibadat, seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain dimana hukum ini diciptakan dengan tujuan untuk mengatur hubungan hamba dengan Tuhan serta hukum mu’amalat seperti segala macam perikatan, transaksi-transaksi kebendaan, jinayat dan ‘uqubat (hokum pidana dan sanksi-sanksinya) dan lain sebagainya.
Menafsirkan Al-Quran ada beberapa cara, yang pertama adalah penafsiran dengan cara lama yaitu, menafsirkan dengan satu per satu ayat yang turun tanpa mengumpulkan atau menghimpun terlebih dahulu. Metode ini dianggap memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah menghabiskan waktu secara percuma, meninggalkan gagasan tertentu dalam sebuah ayat tertentu yang mengandung gagasan tersebut, dan memperlakukan Al-Quran secara atomistis, parsial, dan tidak integral.3 Kedua, penafsiran dengan cara menghimpun dalam tema-tema.
Cara yang kedua ini dianggap cara yang termodern karena dengan menghimpun terlebih dahulu, kita dapat membandingkan dan mengambil kesimpulan yang tepat.

B. Al-Hadits

 Ta’rif tentang Hadist
As-Sunnah menurut bahasa berarti cara, jalan, kebiasaan, dan tradisi.4 Kebiasaan mencakup kehidupan sehari-hari dan yang baik dan buruk. Seperti sabda Nabi SAW, “barangsiapa membuat sunnah yang terpuji maka baginya pahala sunnah itu dan pahala sunnah yang buruk maka padanya dosa sunnah buruk itu dan dosa yang mengamalkan sampai hari kiamat.”5
Pengertian sunnah menurut ahli hadits adalah sesuatu yang didapatkan dari Nabi SAW yang terdiri dari ucapan, perbuatan, persetujuan, sifat fisik atau budi, atau biografi, baik pada sebelum kenabian ataupun sesudahnya.6 Menurut istilah para ahli pokok agama (al-ushuliyyudin), sunnah ialah sesuatu yang diambil dari Nabi SAW, yang terdiri dari sabda, perbuatan dan persetujuan saja.7

Sesuai dengan tiga hal tersebut di atas yang disandarkannya kepada
Rasulullah saw. maka Sunnah dapat dibedakan kepada 3 macam:
a. Sunnah qauliyah (perkataan), yaitu sabda yang beliau sampaikan dalam beraneka tujuan dan kejadian . Misalnya hadits yang berbunyi: “tidak ada kemudharatan dan tidak pula memudharatkan” Adalah suatu Sunnah qauliyah yang bertujuan memberikan sugesti kepada umat Islam agar tidak membuat kemudharatan kepada dirinya sendiri dan orang lain.
b. Sunnah fi’liyah (perbuatan), yaitu segala tindakan Rasulullah saw. Sebagai Rasul. Misalnya tindakan beliau mengerjakan shalat 5 waktu dengan menyempurnakan cara-cara, syarat-syarat dan rukun-rukun melaksanakan, menjalankan ibadah haji, memutuskan perkara berdasarkan bukti atau saksi dan mengadakan penyumpahan terhadap seorang pendakwa.
c. Sunnah taqririyah (persetujuan) perkataan atau perbuatan sebagian sahabat yang telah disetujui oleh Rasulullah saw. secara diam-diam atau tidak di bantahnya atau disetujui melalui pujian yang baik. Persetujuan beliau terhadap perbuatan yang dilakukan oleh sahabat itu dianggap sebagai perbuatan yang dilakukan oleh beliau sendiri. Sebagai contoh misalnya periwayatan seorang sahabat yang menceritakan bahwa: Ada dua orang sahabat bepergian, kemudian setelah datang waktu shalat mereka bertayammum karena mereka tidak mendapatkan air. Setelah mereka melanjutkan perjalanan kembali, di tengah jalan mereka mendapatkan air, sedang waktu shalat masih ada. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulang shalatnya kembali, sedang yang satunya tidak melakukan yang demikian. Ketika kedua orang tersebut melaporkan kepada rasulullah saw. apa yang telah mereka lakukan, maka beliau membenarkan tindakan yang telah mereka lakukan masingmasing. Beliau berkata kepada orang yang tidak mengulang shalatnya:”perbuatanmu adalah sesuai dengan sunnah, karena itu shalat yang sudah kamu kerjakan itu sudah cukup”. Kepada orang yang mengulang shalatnya beliau berkata:”kamu akan memperoleh pahala dua kali”.

 Nisbah (hubungan) sunnah dengan Al-Qur’an:
1. Menguatkan (muakkid) hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan hukumnya di dalam Al-Qur’an. Jadi, Al-Qur’an sebagai penetap hukum dan sunnah sebagai penguatnya.. Misalnya saja kewajiban shalat yang tercantum dalam Al-Qur’an, maka dalam sunnah mempertegas kewajiban itu ketika Nabi ditanya oleh malaikat Jibril untuk menerangkan tentang Islam, Nabi menjawab “Islam itu ialah suatu persaksianmu bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, tindakanmu mendirikan shalat………..”
2. Memberikan keterangan (bayan) ayat-ayat Al-Qur’an, artinya memberikan perincian ayat-ayat Qur’an yang masih umum. Misalnya dalam Qur’an hanya dicantumkan kewajiban shalat dan sunnah menerangkan waktu-waktu shalat, jumlah rakaatnya, syarat-syarat dan rukunnya dengan mempraktekkannya langsung melalui perbuatan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

 Pembagian Sunnah
Di tinjau dari sedikit atau banyaknya orang-orang yang meriwayatkan, sunnah dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Sunnah mutawatirah, yaitu sunnah yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat Nabi, dan dari sahabat-sahabat tersebut diriwayatkan pula oleh para tabi’i dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang dengan jumlah sahabat yang meriwayatkan pertama. Sunnah ini banyak ditemukan pada sunnah amaliah (yang langsung dikerjakan oleh Rasul) misal cara melakukan shalat, puasa, haji dan lain-lain dimana perbuatan-perbuatan Rasul tersebut disaksikan sendiri secara langsung oleh para sahabat dengan tidak ada perubahan sedikitpun pada waktu disampaikan kepada para tabi’i dan orangorang pada generasi berikutnya.
2. Sunnah masyhurah, yakni sunnah yang diriwayatkan oleh seorang sahabat atau dua orang atau lebih yang tidak sampai mencapai derajat mutawatirah , kemudian dari sahabat tersebut diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’i yang mencapai derajat mutawatirah dan dari sekian banyak tabi’i ini diriwayatkan oleh sekian banyak rawi yang mutawatir pula.
3. Sunnah ahad, sunnah yang diriwayatkan oleh seorang sahabat, dua orang atau lebih yang tidak sampai derajat mutawatir, kemudian diriwayatkan lagi oleh seorang tabi’i, dua orang atau lebih dan seterusnya diriwayatkan oleh perawiperawi dalam keadaan tidak mutawatir juga. Sunnah ahad ini yang paling banyak dijumpai dalam kitab-kitab sunnah. Sunnah ahad terbagi menjadi tiga:

a) Hadits shahih, ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan sempurna ketelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rasulullah, dan tidak mempunyai cacat (‘illat) .
b) Hadits hasan, ialah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil tetapi kurang ketelitiannya, sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah dan tidak mempunyai cacat.
c) Hadits dha’if, ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits ahahih dan hadits hasan. Jumhur ulama sepakat dalam membolehkan hadits dha’if untuk menerangkan fadha’ilul amal, bukan untuk menetapkan hukum-hukum yang pokok, seperti untuk menghalalkan atau mengharamkan suatu perbuatan apalagi untuk menetapkan soal-soal aqidah.


C. Ijtihad
Ijtihad adalah mencurahkan segala kemampuan berfikir untuk mengeluarkan hukum syar’i dari dalil-dalil syara’, yaitu Al-Qur’an dan hadits. Orang-orang yang mampu menetapkan hukum suatu peristiwa dengan jalan ini disebut mujtahid. Peristiwa-peristiwa yang dapat diijtihadkan yaitu:

a. Peristiwa-peristiwa yang ditunjuk oleh nash yang zhaniyulwurud (haditshadits ahad) dan zhaniyud dalalah (nash Al-Qur’an dan hadits yang masih dapat ditafsirkan dan dita’wilkan)
b. Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. Peristiwa-peristiwa semacam ini dapat diijtihadkan dengan leluasa baik dengan perantaraan qiyas, istihsan, istishab, maslahat mursalah atau dengan jalan lainnya.
c. Peristiwa yang sudah ada nashnya yang qath’iyuttsubut dan qath’iyud dalalah. Yang terakhir ini adalah khusus dijalankan oleh Umar bin Khattab r.a. beliau meneliti nash-nash tersebut tentang tujuan syar’i dalam mensyari’atkan hukum. Kemudian beliau menerapkan ijtihadnya pada peristiwa sekalipun sudah ada nashnya yang qath’i.


Metode-metode Ijtihad

Ada beberapa metode atau cara untuk melakukan ijtihad, baik ijtihad dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. Dia antara metode atau cara berijtihad adalah:

a) Ijma’ adalah persetujuan atau kesesuaian pendapat para ahli mengenai suatu masalah pada suatu tempat di suatu masa.. Menurut H.M. Rasjidi, Ijma’ adalah persetujuan atau kesesuaian pendapat d suatu tempat mengenai tafsiran ayat-ayat hukum tertentu dalam Al-Qur’an.
b) Qiyas adalah menyamakan hukum suatu hal yang tidak terdapat ketentuannya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan hal lain yang hukumnya di sebut dalam Al-Qur’an dan Sunahrosul karena persamaan illatnya (penyebab atau alasan)nya.
c) Istidal adalah menarik kesimpulan dari dua hal yang berlainan.
d) Masalih al-Mursalah adalah cara menemukan hukum sesuatu hal yang tidak terdapat ketentuannya baik di dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah, berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat atau kepentingan umum.
e) Istihsan adalah cara menentukan hukum dengan jalan menyimpang dari ketentuan yang sudah ada demi keadilan dan kepentingan social.
f) Istishab adalah melangsungkan berlakunya hukum yang telah ada karena belum ada ketentuan lain yang membatalkannya.
g) ‘Urf (adat-istiadat) yang tidak bertentangan dengan hukum islam dapat di kukuhkan tetap terus berlaku bagi masyarakat yang bersangkutan.


METODE ISTIDLAL DARI EMPAT MAZHAB

ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata Istadalla artinya : minta petunjuk, memperoleh dalil, menarik kesimpulan. Imam al-Jurjani, memberi arti istidlal secara umum, yaitu menentukan dalil untuk menetapkan sesuatu keputusan bagi yang ditunjukan. Imam Al-Syafi'i memberikan pengertian terhadap Istidlal dalam arti, menetapkan dalail dari nash ( Alquran dan al-Sunnah) atau dari ijma dan selain dari keduanya.
Terdapat arti istidlal yang lebih khusus, seperti yang dikemukakan oleh Imam Abdul Hamid Hakim, yaitu mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan al-Sunnah, tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran, kemudian al-Sunnah, lalu al-Ijma selanjutnya Alqiyas. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran , al-Sunnah, Al-Ijma dan Qiyas, maka hendaklah mencari dalil lain. ( Istidlal ).

Dalam aliran fikih, dikenal 4 mazhab yang paling populer, yaitu:

1) Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi dibawa oleh Imam al A’Zham Abu Hanifah, Al-Nu’man bin Thabit bin Zuwataal-Kufi. Dilahirkan pada tahun 80H dan telah meniggal dunia pada tahun 150H. Beliau hidupdalam dua zaman pemerintahan yaitu zaman pemerintahan Bani Umaiyah dan Bani Abassiyah.Imam Abu Hanifah adalah imam al-ra’yu dan ahli fiqah Iraq, beliau sangat berhati-hati dalammenerima hadis. beliau menggunakan Qias dan Istihsan.

Metode Istidlal Imam Hanafi
Kaidah pengambilan hukum yang digunakan oleh Imam Hanafi ialah
beliau akan lebih mengutamakan al-Quran dan Sunnah setelah itu beliau akan mengambil pendapat sahabat dan sekiranya masih tidak dijumpai, beliau akan beralih pula pada ijma’ dan Qias. Kaedah terakhir yang akan digunakan sekiranya masih tiada penyelesaian ialah menggunakan Istihsan dan al- urf (kebiasaan).
Abu Hanifah sangat menghormati para sahabat dan menganggap pendapat mereka satu perkarayang wajib diikuti, lebih-lebih lagi dalam perkara yang mencapai kata ijma’ dikalangan mereka.Dalam perkara-perkara yang dipertikaikan, beliau menggunakan fikirannya memilih suatupandangan yang bersesuaian atau lebih hampir kepada dasar-dasar am dalam syariat ini.

2) Mazhab Maliki

Imam Malik bin Anas bin Abu Amir al-Asbahi ialah penggasas mazhab ini dan beliau jugamerupakan seorang imam fiqah dan Hadis Darul Hijrah (Madinah). Beliau dilahirkan padazaman al-Walid bin Abdul Malik dan meninggal di Madinah pada zaman pemerintahan al-Rasyid.Imam Malik merupakan seorang tokoh dalam bidang hadis dan fiqh. Kitab beliau al-Muwatta’merupakan penyumbang besar dalam bidng hadis dan fiqh. Imam As-Syafi’i pernah berkata ,”Malik adalah guru saya, saya menuntut ilmu darinya”. Beliau adalah hujah diantara saya denganAllah SWT. tidak ada seorang pun yang berjasa kepada saya lebih daripada Malik.Kaedah

Metode Istidlal Maliki
Kaedah pertama yang dilaksanakan oleh Imam Malik dalam menyimpulkan sesuatu hukum ialah dari al-Quran dan As-sunnah. Jika tidak didapati dari kedua-dua sumber hukum utama ini maka beliau akan beralaih pula dengan kaedah Ijma’ serta Qias dan kemudian beliau akan menggunakan pula kaidah Mashalih al-Mursalah. Imam Malik senantiasa mengutamakan al-Quran dalam menyusun dalil-dalilnya dengan terang. Beliau mengutamakn nas-nasnya, kemudian zahirnya, kemudian pengertiannya yang difahami darinya.
Kemudian beliau akan beralih pula kepada Assunnah dengan mendahulukan yang mutawatir, kemudian yang mashur,dan kemudiannya yang ahad, kemudiannya mengikut susunan-susunan nasnya zahirnya danpengertian-pengertian yang difahami darinya. Kemudian beliau akan beralih pula kepada Ijma’. Apabila semua sumber pokok ini tidak ada maka barulah beliau menggunakan qias sertamenyimpulkan hukum-hukum daripadanya”

3) Mazhab Syafi’i

Mazhab ini digagas oleh Al-Imam Abu Abdullah, Muhammad bin Idris al-Qurasyi al- Hasyimial-Muttalibi bin al-Abbas bin Othman bin Syafi’i,(rahimahullah) masih senasab dengan Rasulullah SAW. Beliau dilahirkan di Ghazzah Palestin pada tahun 150H. Imam Syafie diasuh dan dibesarkan dalam keadaan anak yatim. Beliau telah menghafal al-Quran sejak kecil.Imam Ahmad bin Hanbal telah bertemu dengan Imam Syafie di Makkah pada tahun 187H dan diBaghdad pada tahun 195H. Beliau mengajar Imam Ahmad ilmu fiqah dan usul fiqah serta ilmu nasikh dan mansukh al-Quran.Di antara hasil karya beliau ialah al-Risalah yang merupakan penulisan pertamanya dalambidang ilmu usul fiqah dan kitab al-umm di bidang fiqh berdasarkan mazhab jadidnya. Imam As-Syafie adalah seorang mujtahid yang mutlak. Beliau merupakan imam dalam bidang fiqah, Hadis dan usul. Beliau telah berjaya mencantumkan ilmu fiqah ulama hijaz dengan ulama Iraq. ImamAhmad pernah menyebut bahawa Imam Syafie adalah orang paling alim

Metode Istidlal Imam Syafi’i
Sumber Mazhab Imam Syafie ialah al-Quran dan sunnah. kemudian diikuti pula oleh ijma’dan qias. Beliau tidak mengambil pendapat sahabat karena merupakan ijtihad yang berkemungkinan salah. Beliau juga tidak beramal dengan istihsan yang diterima dalam mazhab Hanafi dan Maliki. Dalam hal ini, beliau pernah berkata “siapa yang melakukan istihsan berarti membuat syariat sendiri”. Beliau juga telah menolak mashalih al-mursalah

4) Mazhab Hambali

Penggasasnya yaitu Imam Abu Abdullah, Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Zuhaili al-Shaibani. Beliau telah dilahirkan dan dibesarkan di Baghdad dan beliau juga telah wafat di sana pada bulan Rabiulawal. Imam Ahmad telah mempelajari ilmu fiqah dari Imam Syafi’i ketika di Baghdad. Akhirnya Imam Ahmad menjadi seorang mujtahid mustaqil. Beliau merupakan imam dalam bidang Hadis, Sunnah dan fiqh. Imam Syafi’i berkata pada masabeliau meninggalkan Baghdad menuju ke Mesir, “ aku keluar dari Baghdad dan tidak meninggalkan orang yang lebih taqwa dan alim dalam bidang fiqah selain ibnu Hanbal”.

Metode Istidlal Imam Hambali
Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana imam-imam yang lain meletakkan al-Quran dan Assunnah sebagai sumber utama dalam perundangan Islam. Beliau juga beramal dengan Ijma’dan qias, kalau terdapat nas yang nyata dalam al-Quran dan hadis mutwatir, tidak harus berpegang kepada sumber-sumber lain seperti pendapat sahabat atau qias, tetapi terdapat jugaperbedaan antara beliau dan imam-imam mujtahid yang lain dalam menyimpulkan sesuatuhukum seperti penggunaan Istishab dan Sad al-dzara’i

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Islam mempunyai dua sumber hukum yang utama yaitu Al-Qur’an dan Hadits, sedangkan untuk merumuskan suatu hukum baru yang tidak terdapat pada keduanya di perlukanlah ijtihad yang tetap mendasarkan pada Al-Qur’an dan hadits.
Dalam melakukan Ijtihad ada beberapa metode di antaranya Ijma’, Qiyas, Istidal, al-Masalih al-Mursalah, Istihsan, Istishab, ‘Urf dan lain-lain.

Dari keempat Mazhab mempunyai istidlal yang berbeda-beda di antaranya:
 Imam Hanafi ialah beliau akan lebihmengutamakan al-Quran dan Sunnah setelah itu beliau akan mengambil pendapat sahabat dansekiranya masih tidak dijumpai, beliau akan beralih pula pada ijma’ dan Qias. Kaedah terakhir yang akan digunakan sekiranya masih tiada penyelesaian ialah menggunakan Istihsan dan al- urf (kebiasaan).
 Imam Malik dalam menyimpulkan sesuatu hukum ialah dari al-Quran dan Assunnah. Jika tidak didapati dari kedua-dua sumber hukum utama ini makabeliau akan beralaih pula dengan kaedah Ijma’ serta Qias dan kemudiannya beliau akanmenggunakan pula kaidah Mashalih al-Mursalah
 Imam Syafie ialah al-Quran dan sunnah. kemudiannya diikuti pula olehijma’dan qias
 Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana imam-imam yang lain meletakkan al-Quran danAssunnah sebagai sumber utama dalam perundangan Islam. Beliau juga beramal dengan Ijma’dan qias, kalau terdapat nas yang nyata dalam al-Quran dan hadis mutwatir, tidak harusberpegang kepada sumber-sumber lain seperti pendapat sahabat atau qias, tetapi terdapat jugaperbedaan antara beliau dan imam-imam mujtahid yang lain dalam menyimpulkan sesuatuhukum seperti penggunaan Istishab dan Sad al-dzara’i


DAFTAR PUSTAKA

Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, Prof. Dr. M.A, Pengantar perbandingan Mazhab, Jakarta: Gaung Persada (GP) Press, Cet ke-IV, 2011
H. Muhamad Daud Ali, Prof. S.H, Hukum Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Cetakan XVI, 2011
Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fikih dan Keuangan, Jakarta: PT.RajaGrafindoPersada, 2004
Atang Abd. Hakim, dan Mubarak, Jaih, Metodologi Studi Islam, Bandung PT. RemajaRosdakarya, 2006
Azyumardi,Azra. Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum. Jakarta:Direktorat Perguruan Agama Islam.Cetakan III,2002.
Hadits Bukhari dan Muslim. Muhammad Ali As-Sayis. Sejarah Pembentukan Dan Perkembangan Hukum Islam. (terj) oleh Drs. H. Dedi Junaedi dan Dra. H. Hamidah, dari judul asli Tarikh Al-Fiqh Al-Islami.Jakarta:CV Akademia Pressindo.1996.
Nata, Abuddin. Al-Quran dan Hadits.Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.Cetakan VII, 2000.
Siba’i, al-Mustafa. Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam. Jakarta:Pustaka Firdaus.cet. I,1991.

Tugas makalah : Akief Takaful STAI al Aqidah Al Hasyimiyyah Jakarta




Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Akief Takaful

1 komentar:

kingkong mengatakan...

Thank's gan infonya !!!

peluang agen tiket

Poskan Komentar

 
© 2010-2012 AKIEF TAKAFUL
Desain by Akief Takaful | Powered by Blogger