Home » » Resensi Buku: 10 Pintu Menuju Keabadian

Resensi Buku: 10 Pintu Menuju Keabadian

“Persiapan untuk Hari Kiamat”






Judul buku : Sepuluh Pintu Menuju Keabadian.

Judul Asli : Al-Isti’dad Li Yaum Al-Ma’ad (Persiapan untuk hari kiamat)

Penulis : Imam Ahmad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad (Ibnu Hajar al Asqalani )

Penerjemah : Harapandi Dahri

Editor : Khorizah, M.Pd & Agus Iswanto

Penerbit : Penamadani, Jakarta, Jl.Kayumanis Barat G-K I RT.10 RW.02

Kayumanis Jakarta Timur 13130

Jumlah Halaman : xvi + 270 hal.

Ketebalan : 5 cm

Ukuran : 27 cm x 21cm

Buku ini ditulis oleh Imam Ahmad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad. Beliau berasal dari Asqlan, suatu wilayah di daratan Mesir, bermadzhab Sayafi’I, dan Ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Hajar al Asqalani. Kemudian buku ini diterjemahkan oleh Dr. Harapandi Dahri, MA. Ia lahir di Lombok, NTB, 31 Desember 1965. Telah menyelesaikan sarjana (S1) di Institut Agama Islam Al-Aqidah (IAIA) Jakarta tahun 1995. Kemudian menyelesaikan (S2) di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1999. Dan (S3) telah selesai di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2003. Sekarang aktif sebagai dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta. Beliau telah mempublikasikan beberapa karya-karyanya, yaitu yang berjudul Wali dan Keramat dalam Islam (Balai Litbang Agama Jakarta, 2006); Manifestasi Cinta dalam Dunia sosial (Penamadani, Jakarta, 2007); Identitas Melayu (Penamadani Jakarta, 2010); Master Sufi Dari Tanah rencong (Penamadani Jakarta, 2010); dan beberapa karya-karyanya yang lain salah satunya juga buku ini.
Di dalam buku ini terdapat hal-hal baru dalam penyajiannya kepada para pembaca. Dibandingkan dengan buku yang lain, buku ini memiliki struktur susunan yang unik yang mungkin sangat jarang dijumpai pada buku-buku lain. Sebagai contoh di dalam buku ini berisi nasihat dari masing-masing hadits, yang mana makna setiap hadits berjumlah sesuai dengan angka babnya. Namun hal ini tidak sesuai dengan kalimat pengantar yang ada pada halaman (v) dari penerbit. Telah tertulis pada kalimat itu bahwa: “Tiap-tiap bab (pintu) berisi beberapa nasihat sesuai dengan jumlah bab yang yang dibicarakan. Sebutlah misalnya, bab atau pintu pertama berisi satu nasihat, bab atau pintu kedua berisi dua nasihat, bab atau pintu ketiga berisi tiga nasihat, begitu pula bab atau pintu berikutnya berisikan nasihat sesuai dengan angka-angka dalam bab.” Dan kemudian pada halaman berikutnya (vi) disebutkan: “Jika dihitung dari setiap bab yang amsing-masing berisikan nasihat sesuai dengan jumlah babnya, maka terdapat 55 nasihat yang terkandung di dalam buku ini.” Dan kalau pembaca mengawalinya dari kalimat penerbit tersebut, maka akan terasa oleh pembaca bahwa pembahasan dalam buku ini tidak memiliki nasihat dari sebuah hadits yang menjadi pokok pembicaraan dari masing-masing bab, sehingga akan terkesan adanya pelebaran pembahasan dan hanya menambah ketebalan buku saja. Namun demikian, masih ada hal yang menarik yang perlu pembaca ketahui dari buku ini, yaitu adanya kata kunci yang terdapat pada setiap hasdits yang dicantumkan dan juga adanya catatan akhir dari setiap bab, yang telah dicntumkan oleh penerjemah.

Kemudian pada kalimat pengantar penerjemah, terdapat beberapa kritikan yang perlu dipertimbangkan, yaitu:

1. Pada halaman (Xi, Pengantar penerjemah) yaitu “ Diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang penguasa mengumpulkan lima orang ulama dan lima orang-orang bijak”. Sedangkan sebenarnya yang dimaksud adalah lima orang Ulama yang bijak. Sehingga dapat sesuai dengan kalimat selanjutnya yaitu “ Maka setiap orang dari mereka berbicara dengan dua kata-kata bijak hingga seluruhnya menjadi sepuluh kata bijak.”
2. adanya penjelasan yang kurang tepat dalam pengambilan makna kedua pada penggalan petuah peratama dalam pengantar penerjemah hal (xi) yang barbunyi : “… merasa aman dari makhluk adalah kemerdekaan dan takut dari sesama makhluk adalah perbudakan.” Dalam buku ini dimaknai : “rasa takut dan aman yang bersandarkan kepada sesama manusia (bukan kepada Allah) adalah perbudakan.” Sedang menurut versi pe resensi yang lebih tepat adalah: “merasa aman dari makhluk itu kemerdekaan dan hal itu adalah baik karena dia hanya bersandar kepada Allah sehingga meresa aman dari makhluknya. Dan hanya ketakutan kepada sesama makhluklah yang merupakan suatu perbudakan.
3. kemudian masih pada pengantar penerjemah hal (xiii) terdapat pengambilan makna yang terulang, yaitu pada kalimat “Berharap kepada Allah adalah kekayaan yang paling hakiki dan bersifat abadi dan bersikap sebaliknya adalah kemiskinan yang sejati”, masih terulang lagi pada pengambilan makna kedua yang berbunyi: “Putus asa dari rahmat Allah adalah kekacauan iman dan menuai kemiskinan yang tiada terbandinkan.”
4. Terdapat pula kesalahan dalam pengambilan makna pada petuah yang ketiga yaitu: “Keyakinan hati tidak berbahya walaupun ia miskin berfikir.” Sedang yang dimaksud dengan petuah “Seorang yang memiliki hati yang kaya maka tidak akan berbahaya atasnya walaupun ia memiliki pikiran yang miskin”, itu adalah orang yang kaya hati, walaupun secara pikiran melihat kondisi fisik miskin itu bukan suatu yang bahaya. Karena kekuatan hatinya lebih kokoh.

Berikut peresensi sedikit cantumkan kepada para pembaca tentang nasihat yang terdapat dalam buku ini mewakili dari masing-masing bab yang ada.

Pintu Pertama

Pintu pertama dalam buku ini berisi muqadimah yang mengandung nasihat tentang pentingnya menghargai waktu dalam menjalani kehidupan dan mengisi waktu itu dengan niat yang benar serta penuh keikhlasan karena Allah SWT.

Pintu Kedua

Dalam pintu kedua, terdapat nasihat dari Nabi, yaitu: Tidak boleh melakukan perbuatan syirik dalam hal apapun. Di dalam penjelasan point tentang nasihat ini, terdapat sebuah kalimat yang salah pada hal. 18 paragraph pertama yang berbunyi “ Paham terhadap agama akan membawanya kepada akhlak yang mulia, amal yang baik, dan sebagi nasihat kepada Allah dan hamba-hambaNya.” Allah sangat membenci orang yang suka membahayakan sesama.

Pintu Ketiga

Pada pintu ketiga ini terdapat petuah yaitu diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: Barangsiapa dalam keadaan kesulitan hidup maka seakan ia tengah mengadu kepada Tuhannya; Barang siapa karena urusan dunia ia menjadi seorang yang sedih, maka seakan ia membenci Allah; Dan barangsiapa yang tunduk kepada seorang yang kaya karena kekayaannya, maka dua pertiga agamanya telah hilang (dia telah melupakan dirinya sebagai muslim yang sejati).

Pintu Keempat

Di pintu keempat ini disebutkan, bahwa Rasulullah berkata kepada Abu Dzarr, yaitu: Wahai Abu Dzarr, perbaharuilah perahumu karena lautan itu dalam; Bawalah bekal yang cukup karena perjalanan itu panjang; Sedikitkanlah barang bawaan karena tantangan akan menghadang; dan Murnikanlah amalanmu karena yang memperhatikanmu itu Maha Melihat.

Maksud dari empat point di atas adalah menggambarkan tentang kehidupan setelah alam dunia seperti perjalanan yang sangat berat, maka kita harus mempersiapkan diri dengan matang untuk menghadapinya termasuk memperbaiki niat kita agar selalu lurus kepada Allah SWT.

Pintu kelima

Pada pintu kelima ini terdapat petuah dari nabi Muhammad SAW, yaitu barangsiapa menganggap remeh lima perkara maka ia akan merugi lima perkara, yaitu: Siapa yang meremehkan para ulama maka akan rugi dalam urusan agamanya; Siapa yang meremehkan pemerintah maka ia akan rugi dalam urusan dunianya; Siapa yang meremehkan tetangganya, maka ia akan merugi dari banyak manfaat; Siapa yang meremehkan orang-orang yan kuat maka ia akan merugi dalam kecintaan; dan Siapa yang meremehkan keluarganya maka ia akan merugi dari kehidupan yang baik.

Pintu keenam

Rasulullah SAW bersabda, “Ada enam perkara yang seluruhnya perkara asing bila berada dalam enam tempat, yaitu: Masjid menjadi asing bila berada di tengah-tengah kaum yang tidak pernah shalat di dalamnya; Al-Qura’an menjadi asing bila berada di dalam keluarga yang tidak pernah membacanya; Al-Qur’an menjadi asing bagi batin seorang yang fasik; Seorang perempuan salehah menjadi asing bila berada di bawah tangan seorang laki-laki zalim yang berakhlak buruk; Seorang laki-laki shaleh menjadi asing berada di bawah seorang perempuan rusak yang berakhlak buruk; dan Seorang alim menjadi asing bila berada diantara orang –orang yang tidak pernah mau mendengarnya;

Pintu ketujuh

Dalam pintu ketujuh ini, terdapat tujuh nasihat dari Rasulullah SAW tentang golongan orang yang akan diberi perlindungan oleh Allah di hari kiamat, yaitu: Pemimpin yang adil; Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; Seorang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya hingga ia mengucurkan air mata karena takut kepada-Nya; Seorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid maka ia selalu kembali kepadanya; Seorang yang bersedekah dengan suatu sedekah hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya; Dua orang yang saling mencintai karena Allah ; Dan seorang laki-laki yang dipanggil oleh seorang perempuancantik untuk berbuat zina namun ia berkata:”Saya takut kepada Allah.”

Pintu kedelapan

Kemudian ada delapan nasihat juga dari Rasulullah SAW, yaitu: Ada delapan perkara yang tidak akan pernah kenyang dari delapan perkara. Delapan perkara itu adalah mata dari memandang; bumi dari hujan, seorang yang alim dari ilmu, seorang yang selalu bertanya dari segala permasalahan; seorang yang rakus dari menumpuk harta; laut dari air; dan api dari kayu bakar.”

Pintu kesembilan

Rasulullah bersabda:”Allah mewahyukan kepada Nabi Musa ibn ‘Imran dalam kitab Taurat bahwa induk dosa-dosa adalah tiga, yaitu sombong, dengki, dan rakus. Dari tiga ini kemudian muncul enam lainnya, hingga semuanya menjadi Sembilan, yaitu kenyang, tidur, istirahat, cinta harta, cinta pujian dan pengakuan dari orang lain serta cinta terhadap kedudukan.”

Pintu kesepuluh

Pada pintu terakhir ini, terdapat nasihat dari Umar ibn al-Khattab, yaitu: Ada sepuluh perkara yang tidak dapat menjadi baik kecuali dengan sepuluh perkara; akal tanpa sikat wara’, karunia nikmat tanpa ilmu, kebahagiaan tanpa rasa takut, raja tanpa sifat adil, kehormatan tanpa adab, kegembiraan tanpa keamanan, kaya tanpa sikap derma; fakir tanpa sikap qana’ah (puas), kemuliaan tanpa tawadlu’, dan jihad tanpa taufiq.

Dari banyak sekali petuah dalam buku ini yang cukup menggelitik hati diantaranya sepuluh kelompok petuah di atas, tentulah sangat menarik untuk bisa dibaca agar dapat digunakan sebagai tolak ukur diri kita masing-masing demi mencapai kebahagiaan hidup dalam keabadian.
OLEH : Heru Purwanto/Mahasiswa Semester IV / Santri Ma'had Aly Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Akief Takaful

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© 2010-2012 AKIEF TAKAFUL
Desain by Akief Takaful | Powered by Blogger