Home » » FILSAFAT IBNU RUSYD

FILSAFAT IBNU RUSYD



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Filsafat berasal dari kata Yunani, yaitu philosophia, kata philos berarti cinta, sedangkan sophia berarti kebijaksanaan. Jadi, philosophia berarti mencintai kebijaksanaan (love of wisdom). Orang yang berfilsafat atau orang yang melakukan filsafat disebut “filsuf” atau “filosof”, artinya pecinta kebijaksanaan.
Kita sebagai orang Islam sebaiknya tahu tentang Islam, bahwa Islam sendiri telah menggunakan pemikiran-pemikiran para filsuf untuk membuktikan Islam sebagai agama yang rasional. Banyak tokoh-tokoh filsafat Islam diantaranya adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Razy, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Bajjah, Ibn Thufail, Ibn Rusyd, dan filsuf-filsuf setelah Ibn Rusyd.
Dengan pemaparan dari makalah ini kami akan membahas sedikit tentang Ibn Rusyd, yang mana ia adalah salah satu tokoh filsuf Islam yang terkenal di kalangan orang muslim maupun non-muslim.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perjalanan hidup Ibn Rusyd?
2. Apa saja karangan-karangan Ibn Rusyd?
3. Bagaimanakah pemikiran filsafat Ibn Rusyd?


BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Ibn Rusyd
Nama lengkap Ibnu Rusyd adalah Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd, di barat dan di dalam literature lain abad tengah akhir ia dikenal dengan nama Averroes. Ia dilahirkan di Cordova pada 520 H (1126 M) dari keluarga yang terkenal alim dan ahli ilmu fiqih di Spanyol. Ayahnya seorang hakim dan kakeknya menjadi kepala hakim di Cordova.
Dibawah asuhan keluarga yang terdidik dan terpandang serta kondisi politis inilah Ibnu Rusyd lahir dan berkembang dewasa. Ia mempelajari ilmu fiqih dari ayahnya, sehingga dalam usianya yang masih muda ia sudah mampu menghafal kitab al-Muwattha’ karangan Imam Maliki. Disamping itu, ia belajar ilmu kedokteran dari Abu Ja’far Harun dan Abu Marwan ibn Jarbun al-Balansi, sedangkan logika, filsafat, dan teologi ia peroleh dari Ibn Thufail. Ia juga mempelajari sastra Arab, matematika, fisika, dan astronomi. Ia dipandang filsuf yang paling menonjol pada periode perkembangan filsafat Islam mencapai puncaknya (700-1200 M), keunggulannya terletak pada kekuatan dan ketajaman filsafatnya yang luas serta pengaruhnya yang besar pada fase-fase tertentu pemikiran latin dari tahun 1200-1650 M.[1]
Pada tahun 1153 Ibn Rusyd pindah ke Maroko¸memenuhi permintaan khalifah Abd Al-Mu’min, khalifah pertama dinasti Muwahhidin. Ia meminta Ibn Rusyd untuk membantunya mengelola lembaga-lembaga ilmu pengetahuan yang didirikannya. Pada tahun 1169 risalah pokok tentang medis, ar-Risalah, telah diselesaikannya, pada tahun yang sama pula, ia dikenalkan kepada khalifah Abu Ya’kub oleh Ibn Thufail. Hasil dari pertemuan itu Ibn Rusyd diangkat menjadi qadhi di Saville, ia memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Ibn Rusyd tidak pernah melewatkan malamnya tanpa membaca dan menulis, kecuali dua malam yaitu malam meninggalnya ayahnya dan malam perkawinannya.
Dua tahun setelah menjadi qadhi di Saville, ia kembali ke Cordova menduduki jabatan hakim agung. Selanjutnya pada tahun 1182 ia bertugas sebagai dokter khalifah di istana al-Muwahhidin menggantikan Ibn Thufail. Pada tahun 1195 ia sempat diasingkan oleh sultan Abu Yusuf karena sebagian ulama’ dan fuqaha’ menuduh Ibn Rusyd seorang zindik dan kafir, semua buku-bukunya dibakar kecuali buku-buku kedokteran¸astronomi, dan matematika.
Doktrin utama filsafat Ibn Rusyd yang membuatnya dicap sebagai murtad berkaitan dengan keabadian dunia, sifat pengetahuan Tuhan dan kekekalan jiwa manusia dan kebangkitannya. Membaca sekilas tentang Ibn Rusyd memang bisa memberi kesan bahwa dia murtad dalam hubungannya dengan masalah-masalah tersebut, tapi penelaahan yang serius akan membuat orang sadar bahwa dia sama sekali tidak menolak ajaran Islam. Dia hanya menginterpretasikannya dan menjelaskannya dengan caranya sehingga bisa sesuai dengan filsafat.
Atas jasa baik pemuka kota Saville yang menghadap sultan untuk membujuknya membebaskan Ibn Rusyd, dan akhirnya ia pun dibebaskan. Setelah itu Ibn Rusyd kembali ke Maraques, Maroko, tetapi tidak lama setelah itu ia wafat pada 9 safar 595 H (10 Desember 1198 M) setelah tiga bulan jenazahnya dipindahkan ke Cordova untuk dikebumukan di makam keluarganya.
  1. Karya Ibn Rusyd
Ibn Rusyd menulis dalam banyak bidang diantaranya ilmu fiqih, kedokteran, ilmu falak, filsafat, dan lain-lain. Sebenarnya karyanya yang paling besar berpengaruh di barat, yang dikenal dengan Averroism yaitu komentarnya terhadap karya-karya Aristoteles, bukan saja dalam bidang filsafat, tetapi juga dalam bidang ilmu jiwa, logika, fisika, dan akhlak.
Karya-karya Ibnu Rusyd antara lain:
  1. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid fi al-Fiqh.
  2. Kitab al-Kulliyat fi al-Thibb, yang telah diterjemahkan dalam bahasa latin Coliget.
  3. Tahafut al-Tahafut, yang merupakan sanggahan terhadap kitab Al-Ghazali (Tahafut al-Falasifah).
  4. Al-Kasyfu ’an Manahij al-Adilah fi ‘Aqaid Ahlil Millah.
  5. Fashl al-Maqal fi ma Bain al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal,
  6. Dhamimah li Masalah al-Qadim, dan lain sebagainya.[2]
  1. Filsafat Ibn Rusyd
Filsafat Ibn Rusyd sangat dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles karena ia sering menghabiskan waktunya untuk membuat komentar-komentar terhadap karya-karya Aristoteles dalam berbagai bidang. Menurut Ibn Rusyd, Aristoteles adalah manusia istimewa dan pemikir terbesar yang telah mencapai kebenaran yang tidak mungkin bercampur dengan kesalahan. Ibn Rusyd berkeyakinan jika filsafat Aristoteles dipahami sebaik-baiknya, pasti tidak akan berlawanan dengan pengetahuan tertinggi yang mampu dicapai oleh manusia. Kekaguman Ibn Rusyd terhadap Aristoteles sangat tinggi ia menilai seolah-olah ilham Tuhan menghendaki agar Aristoteles menjadi teladan otak bagi manusia yang tertinggi dan adanya kesanggupan untuk mencapai akal universal.
Ibn Rusyd sebagai filsuf besar juga memikir, membahas dan memecahkan masalah-masalah yang pernah dipikirkan oleh filsuf-filsuf terdahulu, ia tidak begitu saja menerima pemikiran-pemikiran mereka, tetapi menerima yang setuju dan menolak yang sebaliknya, tergantung masalahnya
  1. metode pembuktian kebenaran
Sejalan dengan pengajaran syari’at untuk pembuktian kebenaran konsep (tashdiq), metode yang dapat digunakan ada tiga macam, yaitu :
1. Metode retorika (al-Khatabiyyah)
2. Metode dialektik (al-Jadaliyya)
3. Metode demonstrative (al-Burhaniyyah)
Metode retorik dan dialektik diperuntukkan untuk manusia awam, sedangkan metode demonstrative secara spesifik diperuntukkan bagi kelompok manusia kecil.
  1. Metafisika
Dalam masalah pengetahuan Tuhan, al-Ghazali menuduh para filosof berpendirian bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang kecil , kecuali dengan cara yang kulliyat (umum, universal). Ibnu Rusyd menjawab tuduhan al-Ghazali ini dengan menegaskan bahwa al-Ghazali telah salah paham terhadap pendapat filosof. Ibnu Rusyd meluruskan, pendapat filosof adalah bahwa pengetahuan Tuhan tentang rincian (juz’iyyat) berbeda dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia adalah mengambil bentuk efek, yaitu melalui yang ditangkapnya oleh panca indera, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab bagi terwujudnya rincian tersebut. Karena itu, pengetahuan manusia bersifat baharu dan pengetahuan Tuhan bersifat qadim, yaitu semenjak azalinya. Tuhan mengetahui segala hal yang terjadi di alam ini. Namun begitu, pengetahuan Tuhan tidak dapat diberi sifat-sifat kulliyat atau juz’iyyat, karena sifat-sifat yang demikian hanya dapat dikaitkan kepada makhluk saja. Secara pasti, pengetahuan Tuhan tidak dapat diketahui kecuali oleh Tuhan sendiri.[3]
Ibn Rusyd juga berpendapat bahwa Allah adalah penggerak pertama (muharrik al-awwal). Dalam pembuktian adanya Tuhan, golongan Hasywiyah, Shufiah, Mu’tazilah, Asy’ariah, dan falasifah, mempunyai keyakinan yang berbeda satu sama lain.
Ibn Rusyd juga menerangkan dalil-dalil yang meyakinkan adanya Tuhan :
1. Dalil Inayah al-llahiyah (pemeliharaan Tuhan).
Dikemukakan bahwa alam ini seluruhnya sangat sesuai dengan kehidupan manusia. Persesuaian itu tidak mungkin suatu yang kebetulan, tetapi menunjukkan adanya pencipta yang sangat bijaksana.
2. Dalil Ikhtira’ (dalil ciptaan).
Yang termasuk dalil ini ialah macam hewan, tumbuh-tumbuhan, langit dan bumi. Segala yang maujud di alam ini adalah diciptakan.
3. Dalil Harkah (gerak).
Alam semesta ini bergerak dengan suatu gerakan yang abadi. Gerakan tersebut menunjukkan adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan bukan benda, yaitu Tuhan.
Ibn Rusyd juga mengkritik pendapat Ibn Sina yang menyatakan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang parsial dengan ilmu yang kulli (universal), dan Asy’ariyah yang menyatakan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang parsial dengan ilmu qadim. Disisi lain mereka juga mengatakan bahwa apa yang berkaitan dengan sesuatu yang baharu maka ia juga baharu. Bagi Ibn Rusyd, tidak tepat menyatakan secara terbuka bahwa ilmu Allah itu qadim dan baharu.
  1. Alam
Alam dalam bukunya Fashl al-Maqal masuk dalam wujud yang ketiga, yaitu wujud yang tidak terjadi berasal dari sesuatu, tidak didahului oleh zaman, tetapi terjadinya karena sesuatu (diciptakan). Wujud alam ini ada kemiripannya dengan wujud jenis pertama, karena wujudnya dapat kita saksikan dengan indera. Dan dikatakan mirip dengan wujud jenis kedua karena wujudnya tidak didahului oleh zaman dan adanya sejak azali. Oleh karena itu, siapa yang mengutamakan kemiripannya dengan yang baharu, maka wujud alam ini mereka sebut baharu, dan siapa yang mengutamakan kemiripannya dengan yang qadim, maka mereka katakan alam ini qadim. Sebenarnya wujud alam ini tidak benar-benar qadim dan tidak pula benar-benar baharu. Sebab yang benar-benar qadim adanya tanpa sebab, dan yang benar-benar baharu bersifat rusak.[4]
Berkaitan dengan penciptaan alam, Rusyd yang menganut teori Kausalitas (hukum sebab-akibat), berpendapat bahwa memahami alam harus dengan dalil-dalil tertentus agar dapat sampai kepada hakikat dan eksistensi alam.
Setidaknya ada tiga dalil untuk menjelaskan teori itu, kata Rusyd, yaitu:
Pertama, dalil inayah yakni dalil yang mengemukakan bahwa alam dan seluruh kejadian yang ada di dalamnya, seperti siang dan malam, matahari dan bulan, semuanya menunjukkan adanya penciptaan yang teratur dan rapi yang didasarkan atas ilmu dan kebijaksanaan. Dalil ini mendorong orang untuk melakukan penyelidikan dan penggalian yang terus menerus sesuai dengan pandangan akal fikirannya. Dalil ini pula yang akan membawa kepada pengetahuan yang benar sesuai dengan ketentuan Alquran.
Kedua, dalil ikhtira' yaitu asumsi yang menunjukkan bahwa penciptaan alam dan makhluk di dalamnya nampak jelas dalam gejala-gejala yang dimiliki makhluk hidup. Semakin tinggi tingkatan makhluk hidup itu, kata Rusyd, semakin tinggi pula berbagai macam kegiatan dan pekerjaannya. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan. Sebab, bila terjadi secara kebetulan, tentu saja tingkatan hidup tidak berbeda-beda. Ini menunjukkan adanya pencipta yang mengatur kehidupan. Dalil ini sesuai dengan syariat Islam, dimana banyak ayat yang menunjukkan perintah untuk memikirkan seluruh kejadian alam ini.
Ketiga, dalil gerak disebut juga dalil penggerak pertama yang diambil dari Aristoteles. Dalil tersebut mengungkapkan bahwa alam semesta bergerak dengan suatu gerakan yang abadi, dan gerakan ini mengandung adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan berbenda, yaitu Tuhan.
Menurut Rusyd, benda-benda langit beserta gerakannya dijadikan oleh Tuhan dari tiada dan bukan dalam zaman. Sebab, zaman tidak mungkin mendahului wujud perkara yang bergerak, selama zaman itu kita anggap sebagai ukuran gerakannya. Jadi gerakan menghendaki adanya penggerak pertama atau sesuatu sebab yang mengeluarkan dari tiada menjadi wujud. Rusyd yang juga dikenal sebagai 'pelanjut' aliran Aristoteles ini, menilai bahwa substansi yang lebih dahulu itulah yang memberikan wujud kepada substansi yang kemudian tanpa memerlukan kepada pemberi form (Tuhan) yang ada di luarnya.[5]
Tentang keabadian alam, Ibnu Rusyd berkata: “Meskipun Tuhan dan alam sama-sama abadi tetapi karena Tuhan sebagai penyebab, sedangkan alam adalah akibat, maka Tuhan tetap yang dahulu ada (sebagai pencipta). Hal ini dapat di ibaratkan sebagai matahari dengan sinarnya. Mana yang lebih dahulu antara matahari dan sinarnya?[6]
Sedangkan tentang keazalian alam, Ibnu Rusyd mengemukakan bahwa alam ini azali tanpa permulaan. Tetapi keazalian Tuhan berbeda dengan keazalian alam. Untuk membela pendapatnya ia mengeluarkan argumen sebagai berikut: seandainya alam ini tidak azali ada permulaannya, maka ia hadits(baru), mesti ada yang menjadikannya, dan yang menjadikannya itu harus ada pula yang menjadikannya lagi. Demikian berturut-turut tak ada habis-habisnya. Padahal keadaan berantai demikian (tasalsul) dengan tiada berkeputusan itu akan merupakan hal yang tidak dapat diterima akal pikiran.[7]
  1. Manusia
Dalam kaitan kandungan Alquran, Rusyd membagi manusia kepada tiga kelompok: awam, pendebat, dan ahli fikir. Kepada ahli awam, kata Rusyd, Alquran tidak dapat ditakwilkan, karena mereka hanya dapat memahami secara tertulis. Demikian juga kepada golongan pendebat, takwil sulit diterapkan. Takwil, secara tertulis dalam bentuk karya, hanya bisa diperuntukkan bagi kaum ahli fikir.
Dalam merealisasikan kebahagiaan yang merupakan tujuan akhir bagi manusia, diperlukan bantuan agama yang akan meletakkan dasar-dasar keutamaan akhlak secara praktis, juga bantuan filsafat yang mengajarkan keutamaan teoritis, untuk itu diperlukan kemampuan berhubungan dengan akal praktis. Jadi disini Ibn Rusyd membenarkan teori Plato bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kerjasama untuk memenuhi keperluan hidup dan mencapai kebahagiaan.
  1. Jiwa dan akal
Manusia menurut Ibnu Rusyd, mempunyai dua gambaran yang dalam bahasa Arab disebut ma’ani . Kedua gambaran itu dinamakan percept (perasaan) dan concept (pikiran). Perasaan adalah gambaran khusus yang dapat diperoleh dengan pengalaman yang berasal dari materi. Ibnu Rusyd memberi perbedaan antara perasaan dan akal. Pemisahan ini memperlihatkan kecenderungan Ibnu Rusyd dalam memisahkan antara pengetahuan akali (aqli) dengan pengetahuan inderawi (naqli). Dengan sendirinya kedua pengetahuan ini berbeda dalam hal cara manusia memperolehnya. Pengetahuan inderawi diperoleh dengan percept (perasaan), sedangkan pengetahuan aqli diperoleh lewat akal, pemahamannnya dilakukan dengan penalaran atau pikiran.
Akal sendiri dibagi menjadi dua jenis, yang pertama disebut akal praktis dan yang kedua adalah akal teoritis. Akal praktis memiliki fungsi sensasi, di mana akal ini dimiliki oleh semua manusia. Di samping memiliki fungsi sensasi, akal praktis juga memiliki pengalaman dan ingatan. Sedangkan akal teoritis mempunyai tugas untuk memperoleh pemahaman (konsepsi) yang bersifat universal.
BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Dari ulasan panjang diatas dapat disimpulkan bahwa perjalanan hidup Ibn Rusyd cukup susah dan penuh perjuangan dalam menyebarkan pemikirannya tentang filsafat Islam, tapi semua itu tidak sia-sia karena banyaknya pengikut Ibn Rusyd dari orang-orang Islam maupun non-Islam. Selain itu dia juga melahirkan banyak karya.
Filsafat Ibnu Rusyd sangat terpengaruh oleh pemikiran Aristoteles, karena dia seringkali mengamati dan mengomentari karya-karya Aristoteles. Dan dia juga terkadang setuju dan tak setuju dengan pendapat-pendapat para filsuf lainnya, tergantung masalah apa yang sedang dibahas.
B. Saran
Dari penjelasan di atas kita sebagai umat Islam dapat mengambil pelajaran. Sebuah pemikiran rasional tentang Islam yang akan menghasilkan pencapaian tujuan tertinggi manusia, seperti pemikiran-pemikiran filsuf Yunani. Selain itu dari sejarah hidup Ibn Rusyd ini kita juga bisa mengambil manfaat yang bisa kita rasakan sampai saat ini, yaitu perkembangan ilmu filsafat Islam yang mempunyai banyak cabang. Sebaliknya, kita juga dapat belajar dari kekurangan-kekurangan pemikiran-pemikiran para filsuf, Karena kalau salah memahami akan berakibat fatal bagi diri kita sendiri.


[1] Paul Edward, the encyclopedia of philosophy, vol 1 & 2 (new york: Macmilan,1972), hlm, 220
[2] Muhammad Athif al-Iraqi, Al-naz’ah al-‘Aqliyah Ibn Rusyd (kairo: dar al-Ma’arif, 1979, hlm. 69-71
[3] http://one.indoskripsi.com/node/5986
[4] Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A. Filsafat Islam. 2004. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta, hlm.228-229.



Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Akief Takaful

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© 2010-2012 AKIEF TAKAFUL
Desain by Akief Takaful | Powered by Blogger