Home » » FILSAFAT AL KINDI

FILSAFAT AL KINDI

  1. A. Biografi Al-Kindi

         Nama  lengkap  al-kindi adalah Abu yusuf ya’qub ibn ishak ibn ash shabah ibn Muhammad ibn al asyi’at ibn Qais Al-kindi, lahir di kuffah (irak)  tahun 187 – 260 H (796-873 M). Beliau berasal dari keturunan raja suku Kindi, suku Arab Selatan . Ayahnya bernama Ibnu As-Sabah, sang ayah pernah menduduki jabatan Gubernur Kufah pada era kepemimpinan Al-Mahdi (775-785) dan Harun Arrasyid (786-809). Kakeknya Asy'ats bin Qais kakeknya AL-Kindi dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, Al-Kindi merupakan keturunan Ya'rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah.
        Pendidikan dasar ditempuh Al-Kindi di tanah kelahirannya. Kemudian, dia melanjutkan dan menamatkan pendidikan di Baghdad. Sejak belia, dia sudah dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting dikuasainya, yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu. Al-Kindi hidup di era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
 Al-Kindi melalui lima periode khalifah di antaranya :
  1. Al-Amin (809-813)
  2. Al-Ma'mun (813-833)
          Pada dinasti ini beliau mencetak Baitul Hikmah karna pada waktu itu beliau dipanggil sebagai penerjemah dan editor (menulis terjemahan, dan mengomentari filsafat-filsafat lainnya). Dan juga Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan. Menurut Al-Nadhim, selama bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.
Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.
  1. Al-Mu'tasim, (833-842)
Pada dinasti ini beliau dipanggil juga sebagai guru prifat anak-anak raja/ khalifah. Al-kindi juga pernah menulis surat kepada Al-mu’tashim yaitu yang berbunyi:لَةٌ اِلاَّّ مُعْتَصِمٍ بِالَّلهِ فِى الْفَلْسَفَةِ الْاُوْلَى  رِسَا
  1. Al-Wasiq (842-847)
Pada dinasti ini beliau juga mengembangkan filsafatnya dengan leluasa, dari dinasti inilah Al-kindi mendapatkan kehormatan dari para raja-raja / khalifah.
  1. Mutawakil (847-861)
          Ketika Khalifah Al-Mutawakkil tak lagi menggunakan paham Muktazilah sebagai aliran pemikiran resmi kerajaan, Al-Kindi tersingkir. Ia dipecat dari berbagai jabatan yang sempat diembannya. Jabatannya sebagai guru istana pun diambil alih ilmuwan lain yang tak sepopuler Al-Kindi. Friksi pun sempat terjadi, perpustakaan pribadinya sempat diambil alih putera-putera Musa. Namun akhirnya Al-Kindiyah - perpustakaan pribadi itu - dikembalikan lagi.Pada dinasti ini beliau tidak mendapatkan kehormatan dari para kalangan orang-orang Sunni yang tidak suka pada sains dan kemajuan, bahkan filsafatpun diharamkan oleh mereka. Padahal dalam melihat kemajuan itu kita harus melihat konteks tradisinya kemudian melihat konteks masa kini, namun orang –orang sunni tidak melihat yang dari demikian itu. Pada dinasti inilah Al-kindi juga dibunuh oleh orang-orang sunni.

  1. B.  Pemikiran Filosofis Al-Kindi
         Al-Kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama, karena dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-7 M, filsafat masih didominasi orang Kristen Suriah. Al-Kindi tak sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama.
        Sebagai penggagas filsafat murni dalam dunia Islam, Al-Kindi memandang filasafat sebagai ilmu pengetahuan yang mulia. Sebab, melalui filsafat-lah, manusia bisa belajar mengenai sebab dan realitas Ilahi yang pertama da merupakan sebab dari semua realitas lainnya. Baginya, filsafat adalah ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Filsafat, dalam pandangan Al-Kindi bertujuan untuk memperkuat agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam. . Karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat, surga, neraka, dan kehidupan akhirat.
Al-Kindi membagi daya jiwa menjadi tiga:
a)      Daya bernafsu (appetitive),
b)      Daya pemarah (irascible), dan
c)      Daya berpikir (cognitive atau rational).

          Sebagaimana Plato, ia membandingkan ketiga kekuatan jiwa ini dengan mengibaratkan daya berpikir sebagai sais kereta dan dua kekuatan lainnya (pemarah dan nafsu) sebagai dua ekor kuda yang menarik kereta tersebut. Jika akal budi dapat berkembang dengan baik, maka dua daya jiwa lainnya dapat dikendalikan dengan baik pula. Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu birahi dan amarah diibaratkan al-Kindi seperti anjing dan babi, sedang bagi mereka yang menjadikan akal budi sebagai tuannya, mereka diibaratkan sebagai raja.
Menurut al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu. Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu. Dalam semangat ini pula, al-Kindi mempertahankan penciptaan dunia ex nihilio, kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan wahyu, dan kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan.


Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Akief Takaful

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© 2010-2012 AKIEF TAKAFUL
Desain by Akief Takaful | Powered by Blogger